Abah Mudlor, Pelopor Perguruan Tinggi Islam di Malang

berita terbaru nu kita
Sosok Abah Mudlor Sang Pelopor Perguruan Tinggi Islam di Malang. (Foto: Istimewa)
Senin, 13 September 2021 - 08:52 WIB | Dilihat: 14.46k

NUKITA.ID, MALANG – Nama KH Achmad Mudlor tidak asing bagi kalangan akademisi Jawa Timur pada zamannya bahkan hingga kini. Semasa hidupnya, Abah Mudlor dikenal sebagai aplikator fighting spirit yang konsisten dengan cita-cita agungnya dalam memperjuangkan peradaban umat utamanya dalam bidang pendidikan.

Putra dari pasangan H Muchdlor dan Hj Nasiyah ini lahir pada tahun 1937 di Desa Kauman, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Kiai Achmad Mudlor telah tiada, namun anak cucu dan kadernya senantiasa mengenang sosok penuh spirit perjuangan yang berorientasi pada kemanfaatan, bukan semata terperangkap ego mengembangkan kemakmuran pribadi.

Diceritakan oleh Mohammad Danial Farafish, putra ketiga almarhum, ayahnya merupakan sosok pencetak sejarah dan telah banyak meninggalkan artefak perjuangan yang eksis hingga saat ini.

Gus Daniel, sapaan akrabnya mengisahkan bahwa semasa hidup, Abah Mudlor tak jarang meninggalkan keluarga demi mengutamakan urusan umat.

"Keluarga memahami bahwa Abah Mudlor tidak hanya milik kami, melainkan milik umat," katanya kepada NU Online Jatim saat ditemui di kediamannya di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur, Kota Malang, Sabtu (11/09/2021).

Abah Mudlor merupakan salah satu muassis (pendiri) beberapa perguruan tinggi Islam di Kota Malang. Salah satunya adalah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang yang saat ini menjadi salah satu perguruan tinggi Islam terbaik di Indonesia dengan mencetak banyak tokoh berpengaruh dalam berbagai bidang.

Sosok Pengembara Ilmu

Tidak ada limitasi usia bagi siapa saja yang berhasrat mencari ilmu. Hal inilah yang menjadi motivasi para ulama besar menjadi seorang santri kelana.

Disarikan dari buku biografi berjudul "Mujtahid, Mujaddid, Mujahid" cetakan kedua oleh konsorsium dari tim riset yang dipimpin oleh Lia Sholicha bahwa Abah Mudlor pernah menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren.

Memasuki usia sembilan tahun, tepatnya ketika duduk di kelas III Madrasah Ibtida'iyah (MI), Abah Mudlor mulai tertarik melakukan perjalanan spiritual. Dimulai di pesantren asuhan Kiai Mudloffar, Sawahan, Babat, Lamongan. Di sanalah ia mendapatkan balancing terhadap ilmu-ilmu umum yang didapatkan di sekolah selama tiga tahun, sejak 1948-1951 sembari mengabdi kepada sang kiai.

Tak berhenti di situ, Abah Mudlor remaja meneruskan pengembaraannya di Pesantren Kendal, Dander, Bojonegoro selama kurang lebih dua tahun, hingga pada akhirnya ia hijrah menuju Pesantren Langitan, Tuban. Di Pesantren inilah, Abah Mudlor menuai banyak sekali pengalaman hidup. Dan di tempat inilah ia menemukan pintu pembuka fase kedua hidupnya, yaitu berjuang di Kota Malang.

Hal positif lain yang dilakukan Abah Mudlor muda di Pesantren Langitan adalah berinisiatif mendirikan forum halaqah yang berisi multidisiplin ilmu, tidak melulu mencakup ilmu keagamaan. Dimulai dari pembahasan tentang tasawuf,  filsafat, hukum, sains hingga ekonomi. Topik-topik tersebut bergilir memenuhi jadwal sirkulasi halaqah.

Prototipe Abah Mudlor adalah tak lekas puas dengan ilmu, baik umum maupun agama. Selama di Pesantren Langitan, ia tidak kemudian stagnan. Dipicu semangat tholabul ilmi, ia kembali berkelana mengunjungi pesantren-pesantren ternama di berbagai Kota, tidak untuk menetap lama, cukup satu dua minggu persekian waktu lalu kembali lagi ke Langitan.

Abah Mudlor tergelitik untuk terus memperbanyak guru setelah membaca riwayat filsuf Imam Al Hakim at-Tirmidzi yang memotivasinya untuk memiliki semangat belajar tinggi.

Abah Mudlor berkelana ke Yogyakarta, tepatnya di pesantren Assalam saat masa liburan Pesantren Langitan. Di sana ia juga memperdalam bahasa Inggris dengan mengikuti kursus di dekat pesantren.

Tak cukup di Yogya, Abah Mudlor muda melanjutkan pengembaraannya  ke pesantren asuhan Mbah Suro, Cirebon. Serta masih banyak pesantren lain yang dikunjungi untuk belajar ilmu agama.

Hingga pada tahun 1961 lulus dari Propadiuse Akademi Pendidikan Agama Islam (APAI​​​​​) Malang. Kemudian pada tahun 1962 lulus sebagai kandidat APAI. Ia kemudian lulus bakelariat FTT Malang tahun 1963.

Abah Mudlor lulus ujian doktoral I dan II Fakultas Tarbiyah Sunan Ampel Malang tahun 1966. Sedangkan di Fakultas Hukum Unsuri Jurusan Keperdataan dengan SK Ma’arif Jakarta lulus tahun 1988. Selanjutnya lulus ujian doktor pada tahun 2000 hingga dikukuhkan sebagai Guru Besar Filsafat Ilmu pada tanggal 25 Juni 2001 di AIMS Jakarta.

Semangat mencari ilmu menjadi kuat dalam diri Abah Mudlor sesuai semboyan yang termaktub dalam kitab Taklimul Muta'allim "kulla yaumin ziyaadatan minal 'ilmi,  wa isbah fii bukhuuri al fawaaidi" yang artinya "setiap hari bertambah ilmu dan bergelimang dalam lautan yang berfaedah".

Tak Suka Memuji dan Dipuji

Gus Daniel,  putra ketiga Abah Mudlor mengisahkan bahwa ia menyaksikan sosok ayahnya sebagai seorang pejuang yang tegas dan tak mudah terbuai pujian.

Menurutnya, Abah Mudlor tidak pernah memuji orang sukses bahkan muridnya sendiri sekalipun.

"Sebetulnya hal ini bisa diterjemahkan sebagai bentuk motivasi bagi orang yang memahami, agar kita ikhlas dan tidak mudah terlena pujian serta mau terus belajar," terangnya.

Maka tak heran, lanjut Gus Daniel, banyak santri Abah Mudlor menjadi tokoh hebat yang berpengaruh di masyarakat.

Lebih dari itu, keindahan teladan sosok Abah Mudlor dilengkapi dengan sikap zuhudnya.

"Abah jarang sekali memberi kenikmatan hidup layaknya kaum elit," tambah Gus Daniel.

Tujuannya tak lain adalah membentuk mental kuat dan kreatif. Sebab tidak ingin anak-anak dan muridnya tidak siap menghadapi tantangan hidup yang semakin keras ke depan.

"Ketika berjuang, targetnya adalah kemanfataan dan ridho Allah, bukan pujian atau imbalan," tambahnya.

Abah Mudlor dilahirkan sebagai seorang pejuang, bersama Moch Choesnoe dan KH Oesman Mansur yang terlibat dalam mendirikan IAIN Sunan Ampel Malang atau yang sekarang terkenal dengan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Abah Mudlor juga merupakan pencipta shalawat irfan yang menjadi ciri khas dari UIN Malang.

Abah Mudlor adalah teladan yang amat konsisten pada tujuan utamanya dalam rangka berjuang li i’lai kalimatillah.

Dalam hidupnya, selalu memprioritaskan kemanfaatan pada orang lain. Untuk mencapai cita-cita besarnya, Abah Mudlor memiliki semboyan hidup yang sering digemborkan kepada para santrinya.

“Jangan takut mati karena belum makan dan minum, tapi takutlah mati karena tidak berjuang”.

 

Sumber: jatim.nu.or.id


Pewarta :
Editor :
Tags : , , , , ,

Comments: